Sunday, 7 December 2008
Lebaran Haji 1429 H
Saturday, 18 October 2008
Kumpul semua....

Sunday, 18 May 2008
Resensi buku kick andy
Rp.44.500 Rp.37.825
Hemat: 15%
Model: Softcover
Shipping Weight: 460 gram.
6 Units in Stock
Manufactured by: Grup Mizan
Penulis : Gantyo Koespardono
Tebal : 284 hlm.
Kick Andy segera merebut hati penonton televisi karena program ini mengangkat berbagai kisah hidup manusia yang kadang sulit dipercaya benar-benar terjadi di sekitar kita. Berbeda dengan program-program televisi lain, yang lebih mengedepankan akal, Kick Andy mengajak kita menonton dengan hati.
Buku ini memuat kumpulan kisah yang ditayangkan di Kick Andy, yang mampu membuat kita termotivasi, terinspirasi, dan mensyukuri hidup yang sudah diberikan Tuhan. Kisah-kisah itu juga membuat kita mampu bangkit dari rasa putus asa dan menatap hidup dengan optimis.
"Pertanyaan dari hati bukan untuk menghakimi, mempermalukan, juga tidak untuk memuji yang tak proporsional. Kick Andy adalah talkshow yang amat manusiawi dan menyentuh hati karena dalam bahasa dan caranya menggunakan hati."—K.H. Abdullah Gymnastiar, Pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tauhiid
"Kick Andy memberikan pilihan tontonan humanis dengan cara yang amat berbeda. Merupakan pembicaraan serius tentang beragam sendi kehidupan, dan menontonnya seperti menonton teater. Bagi saya, menonton Kick Andy adalah sebuah experience."—Andrea Hirata, Penulis Tetralogi Laskar Pelangi
"Sebagai kreator banyak acara televisi, saya kadang malu melihat kegigihan tim Kick Andy menampilkan tamu-tamu yang demikian dahsyat. Saya tahu itu tidak gampang. Tapi kebagusan sebuah acara memang harus didukung untuk tidak melakukan yang gampang-gampang saja. Proficiat."—Helmi Yahya, Produser Program Televisi
"Really INSPIRING! Menyentuh, shock therapy yang bagus untuk masyarakat Indonesia supaya lebih bisa bersyukur dan survive dengan hidupnya sendiri ketika melihat banyak hal di Kick Andy."—Merlyn Sopjan, Putri Waria Indonesia 2006
"Kick Andy bagi saya menarik, faktual, humanis, dan juga mencerahkan."—Sasa Djuarsa Sendjaja, Ketua Komisi Penyiaran Indonesia
"Kick Andy memiliki keistimewaan dibandingkan acara-acara lain. Keistimewaan Kick Andy adalah gayanya dalam wawancara dengan pertanyaan yang menantang. Daya tariknya berupa sikap tidak mengalah pada pandangan-pandangan konvensional."—Abdurrahman Wahid, Presiden RI ke 4
http://laroci.com/a/index.php?main_page=product_info&products_id=19
Thursday, 8 May 2008
Family Profile
Alhamdulillah kami adalah keluarga yang utuh, artinya lengkap terdiri dari bapak, ibu dan anak – anaknya, bagi kami keluarga adalah komunitas atau jamaah terkecil dalam kehidupan ini, dimana sebagai sebuah bangunan jamaah, dalam keluarga harus ada pemimpinnya dan ada yang dipimpinnya, serta tujuan yang jelas. Oleh katena itu kami sedang berjuang membangun kebersamaan diantara kami, sehingga tujuan kami untuk memberikan ketaatan hanya pada Allah saja bisa tercapai, walaupun sulit kami tak punya pilihan lain kecuali meraih tujuan itu, so, pray it for us.
Keluarga ini terdiri dari, Cecep Ahmad Berlian, lahir di Garut 34 tahun lalu tepatnya 31 oktober 1974, pendidikan sampai tingkat SMA kemudian masuk pesantren PERSIS Bentar Garut. 5 tahun belajar di pesantren dan 3 tahun setelah lulus kemudian menikah dengan lulusan pesantern yang sama, Tati Nurhyati yang lahir di Gaut 13 Oktober 1982, dari pernikahan itu Alhamdulillah kami diamanahi Allah dengan 3 orang anak, yang pertama perempuan, karena kami menganggapnya juga sebagai anugrah maka kami beri nama Nahla Al fatihah ( anugerah pertama ) yang lahir pada 8 Juli 2002, kemudian yang kedua laki – laki namanya Ahmad Haikal Najieb ( Ahmad haikal yang dermawan ) lahir 26 januari 2005 dan yang terakhir bayi perempuan lucu itu kami beri nama Kafaa Billahi Syahieda ( cukup Allah saja yang jadi saksi ) lahir di Garut 14 Januari 2008.
Kami sekarang tingggal di rumah orang tua di Al Ikhlas Garut, ini untuk sementara mudah – mudahan selanjutnya kami bisa tinggal di rumah sendiri minimal bisa mandiri terpisah dari orang tua.
Terakhir, untuk keluarga besar yang ingin bersilaturrahmi atau menghubungi kami, bisa lewat telepon dengan no. 0262 9146347, kalau sedang di Bandung bisa ke no. 02292182063, atau bisa lewat email ke cecepahmad_berlian@yahoo.com dan anwarufikrina@gmail.com .
Tuesday, 4 March 2008
Bulletin edisi 2
BULETIN KELUARGA INCU
MEDIA SILATURAHMI
KELUARGA BESAR YAMIN AL MAULUD
Jl. Kaum Samarang 218 Samarang Garut Telp. 08129589002
http://yaminmaulud.blogspot.com
The 2'nd Generation of Yamin Al Maulud
(1)iiq, reta, salman, ismail, hiban (2)hida, kholid, deden, hamzah (3)ismet, puput (4)faisal (5)wulan,anti, arif (6)bunga,aji, nova (7)desta, uswah, yasir, risyan,
(8)sani, ginan, silma, hilman, lisan,
(9)nisa, rizal, uki, (10)nahla, haikal,kafa(11)shamil,(12)azki, aufa, shidiq.
No.2/i/2008
Punggawa Redaksi :
Pelindung : Amih Penasihat : Papah Puput Pemimpin Redaksi : Mang Aie Tim Penyunting : Mang Aie, Ayahnya Syamil, Puput Tim Kreatif: Mang Aie dan para incu Koresponden : Mang Aie (Karawang), Puput, Reta, Bunga (Garut), Anti (
Dari Redaksi
Edisi no dua hadir untuk membuktikan eksistensi dari buletin incu, bukan apa-apa seperti ummi azki bahwa “…mempertahankan sesuatu tak semudah memulainya”. Semoga dengan hangatnya sambutan dari keluarga semua membuat kita lebih bersemangat dan percaya diri dalam berkarya. Kemampuan kita untuk menulis tidak akan keluar tanpa adanya keinginan dan media, hadirnya buletin ini adalah media untuk berkarya, berarti tinggal keinginan yang harus ditumbuhkan. Terima kasih buat Papahnya Puput atas nasihatnya tentang buletin.
Edisi no dua hadir dengan format baru, halaman baru, dan rubrik baru sesuai dengan masukkan dari penasihat. Tetapi redaksi masih belum menerima tulisan dari para incu, pada kemana ya? Masih ingat dengan Laskar Pelangi? Redaksi sudah dapat ebooknya dan siap berbagi, simak terus mulai dari bab 1 sampai terakhir hanya di buletin (walaupun sepertinya Wa Neneng bakal marah-marah). Family profile menampilkan keluarga Karang Pawitan. Selain rubrik yang lama, ada rubrik baru diantaranya ”Made in Yamins Family” yang menengahkan hasil karya keluarga Yamin, Kuis Buletin, Tips and Triks, dan lain-lain. Redaksi mengucapkan selamat atas kelahiran Kafa Billahi Syahieda anak ketiga dari Abu Nahla, selain itu redaksi juga menghadiri acara syukuran khitanan de Uki. Jangan pernah merasa sulit untuk menghubungi redaksi, bisa mengetik ya tinggal kirim filenya ke redaksi lewat email, atau lewat Puput dan Mang Yusep, tidak bisa mengetik, ya pakai tulisan tangan juga tidak apa-apa.
Uki disunat
Pada tanggal 2 Pebruari 2008 diadakan syukuran khitanan Uki, di rumahnya Nisa. Uki sendiri disunat pada tanggal 24 Januari 08, alhamdulillah proses sunat berjalan dengan lancar dan uki pun sudah bisa berlari-lari dengan cepat. Acara syukuran dihadiri oleh sebagian besar keluarga besar Yamin, kecuali keluarga Sukawening, Bandung dan Bogor. Sorenya para incu terlihat main bola di halaman rumah Nisa. Acara kumpulan seperti ini sudah jarang ditemukan, keakraban para incu harus dipererat dan dijaga. Redaksi mengucapkan selamat buat de Uki, semoga abis disunat bisa cepat gede, lebih pintar dan menjadi anak sholeh.
Kafa Billahi Syahieda
Alhamdulillah, incu Amih sudah bertambah, berarti kekuatan ke-luarga Yamin semakin besar. Tanggal 14 januari 2008 telah lahir putri ketiga Abu Nahla atau adiknya Nahla dan Haikal. Cucu Amih ke -37 ini diberi nama Kafa Billahi Syahieda, sebuah nama yang cantik, yang mencerminkan kesholehan, semoga de Kafa menjadi anak yang pintar dan sholeh. Cepat besar ya de Kafa, biar bisa baca buletin dan berkarya di buletin.
Azki ke Samarang
Jauh-jauh dari Magelang, Azki sekeluarga bersilaturahmi ke Sama-rang dan menginap selama empat malam. Berikut cerita Amih ”...Aya Endah ti poe senen balikna poe jumat sore ka tasik, saptu ka magelang, ah meni rame marotah, ayeuna mah tiiseun deui weh...” Tuh kan, kalau berkunjung ke Amih dan menginap pasti dimuat di buletin.
Saur Amih
“ Sholat”! Kade kana sholat teh ulah dilalaworakeun. Minimal Solat nu wajibna weh
Why I Give My Son Name Is Muhammad Syamil Basayev?
Revers to history, Syamil Basayev is ones of so many Moslem heroes in the world. Syamil Basayev is a Russian Chemistry, born in
Since a Sovyet down out,
More than 15 years, the “baby” nation (
Now, he is the President of Republic Islam
With pride; I give my son name is Muhammad Syamil Basayev…
(Abu Syamil, 26 01 08 at
Ada Saatnya
Setelah apa yang dilakukan
Ada saatnya
Kala bicara gagap
Tuk kumpul kikuk
Setelah apa yang dilakukan
Ada saatnya
Easy going adalah bullsheet
‘Melupakan’ kehilangan makna
Setelah apa yang dilakukan
Ada saatnya
Sulit membedakkan antara mata dan palu hakim
Sulit membedakkan antara mimpi buruk dan siksa kubur
Setelah apa yang dilakukkan
Ada saatnya sempat yakin
Wujud gelisah tercipta seperti tangan
Kebebasan persis seperti harta Soeharto
Setelah apa yang dilakukan
Ada saatnya benar – benar yakin
Allah memang Ada
Syetan memang ada
( Dipersembahkan buat anak – anakku; Nahla Alfatihah, Ahmad Haikal Najieb, Kafa Billahi Syahieda dan just for my sweet Angel Nurhayati Ula)
Senandung kesunyian…
Oleh :Puput
Kutuliskan senandung sunyiku
Pada daun-daun rindu
Yang membeku
Kulafalkan cintaku
Lewat air mata yang berlagu
Kupuji diri-Mu
dalam rintihan malam-malam syahdu
dan kucurahkan hatiku
lewat doa yang kuyakin Kau pun tahu
Aku dan Nenekku
Dulu aku seorang gadis, kata orang-orang aku seorang gadis cantik tapi yah entahlah, memang orang menyebutnya demikian. Tapi ……….. kini aku menjadi seorang nenek dari berpuluh-puluh cucu putra-putri. Seorang nenek tanpa kakek, karena suamiku telah pergi untuk selamanya, sedih sekali aku mengingatnya.
Jadi teringat pada nenekku, juga seorang nenek tanpa kakek, yang telah pulang di tanah suci Mekah waktu menunaikan ibadah haji.
Tinggallah nenekku seorang diri, dirumah sendiri meski rumahnya berhadapan dengan rumah ibu bapakku (bapakku putranya nenek). Nenek sudah tua, putranya dua orang (yang seorang telah meninggal) tinggallah bapakku yang mengurus nenek, cucunya banyak dari kedua anaknya itu, akulah cucunya yang paling kecil, yang paling dekat dengan nenek.
Waktu aku kecil, aku sering diajak nenek tidur dirumahnya. Kata nenek “Hayu ‘Ai urang mondok di eneh, ke dibere jeruk, urang emam jeung lauk jeung gepuk”. Tapi aku tak mau tidur di rumah eneh, aku selalu ingin tidur dengan ibuku, maklum aku seorang anak bungsu.
Kesanku pada nenek waktu itu, eneh adalah nenek cerewet, karena beliu suka melarang kalau aku dengan teman-teman sekolahku ngaranjah tangkal jambu, maklum di sekeliling rumahku banyak pohon jambu batunya.
Setelah aku remaja, aku makin dekat dengan nenek, karena nenek sangat saying padaku, nenek suka menasehatiku, aku sering curhat padanya.
Aku ingat nasehat-nasehat nenek, masih terngiang ditelingaku, meski berpuluh tahun silam;
- Cara makan jangan ceplak, yaitu kalau makan mulut jangan terbuka, kalau mulut terbuka terjadilah suara ceplak itu, tapi kalau tertutup tidak akan menimbulkan suara.
- Kalau sedang makan jangan sambil bicara kalaupun harus bicara karena ada hal sesuatu yang penting, tunggu mulut harus kosong dulu.
- Makan jangan terlalu cepat, santai saja, nikmati makanan apa saja yang ibumu sajikan itu, bersyukurlah pada Allah SWT bahwa kita telah diberi kenikmatan makan makanan yang baik.
- Aku karena seorang perempuan harus membereskan piring-piring bekas dan mencucinya kalau makan dirumah nenek.
- Kalau makan dengan sayur harus pake sendok makan dan nyedok nasinya harus perlahan-lahan supaya sendok tidak berbunyi, sendok jangan menyentuh piring.
- Kepada orang tua harus sopan santun, kalau berbicara jangan keras-keras, apalagi kalau melebihi suara orang tua.
- Kalau disuruh orang tua, cepat-cepatlah laksanakan, jangan mengabaikan perintahnya.
- Patuhilah segala nasehatnya jangan bandel pada orang tua, seandainya orang tuamu marah, itu tandanya orang tuamu saying padamu.
Kalau aku sedang ditinggal anak serumahku, aku sering sendiri, kadang-kadang aku kontak anakku lalu dia datang menemaniku, tapi yah sering juga aku sendiri, terutama pada siang hari, aku ingat nenek, apakah nenekku juga sama perasaannya dengan aku ? Sedih, sunyi sepi, siang malam nenek sendiri, apakah nenek marang pada cucu-cucunya terutama padaku, karena aku tak mau tidur di rumahnya ? Mungkin aku sendiri dirumah balasan dari nenek ?
Kalau betul-betul nenek merasa sedih dan marah padaku karena aku tak mau tidur dengan beliau, aku minta maaf padamu nek, semoga Allah mengampuniku, karena aku sudah membuat nenekku sedih.
“Ya Allah ampunkanlah dosa-dosa nenekku dan kedua orang tuaku, terimalah amal baik dan amal shalehnya. Ammiin.
Nah sekarang aku balik menasehatimu wahai, cucu-cucuku yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng camkanlah nasehat-nasehat nenekku itu, turutilah perintah-perintahnya dan jangan melawan orang tua.
Aku sebagai nenekmu, sangat sayang padamu semuanya, hanya kamulah mungkin yang terlalu sibuk, sehingga aku jarang bertemu dengan kalian, padahal kalau aku lagi menyendiri, aku selalu membayangkan, aku sedang ada diantara kamu, aku dikelilingi oleh cucu-cucuku, aku mendengarkan celotehmu dan curhatmu sebagaimana dulu nenekku mendengarkan curhatku. Aku hanya bisa mena-sehatimu hanya lewat tulisan-tulisanku ini.
Nenekku meninggal sewaktu aku pulang dari rumah sakit setelah aku melahirkan anak keduaku.Sebenarnya masih banyak lagi nasehat-nasehat nenekku, tapi hanya sampai disini saja dulu yah, lain kali aku sambung lagi.
Amih
27 Januari 2008
Hitung ya......!
1 x 8 + 1 =
12 x 8 + 2 =
123 x 8 + 3 =
1234 x 8 + 4 =
12345 x 8 + 5 =
123456 x 8 + 6 =
1234567 x 8 + 7 =
12345678 x 8 + 8 =
123456789 x 8 + 9 =
1 x 9 + 2 =
12 x 9 + 3 =
123 x 9 + 4 =
1234 x 9 + 5 =
12345 x 9 + 6 =
123456 x 9 + 7 =
1234567 x 9 + 8 =
12345678 x 9 + 9 =
123456789 x 9 +10 =
9 x 9 + 7 =
98 x 9 + 6 =
987 x 9 + 5 =
9876 x 9 + 4 =
98765 x 9 + 3 =
987654 x 9 + 2 =
9876543 x 9 + 1 =
98765432 x 9 + 0 =
1 x 1 =
11 x 11 =
111 x 111 =
1111 x 1111 =
11111 x 11111 =
111111 x 111111 =
1111111 x 1111111 =
11111111 x 11111111 =
111111111 x 111111111 =
1 x 1 =
11 x 11 =
111 x 111 =
1111 x 1111 =
11111 x 11111 =
111111 x 111111 =
1111111 x 1111111 =
11111111 x 11111111 =
111111111 x 111111111 =
Unik
KITA INI PENGIKUT SIAPA
Para salaf kita sangat tekun mengamalkan sunah dan salat malam. Habib Segaf bin Muhammad Assegaf berkata, "Aku tidak pernah meninggalkan qiyamullail sejak usia 7 tahun." Dalam Risalatul Qusyairiyah seorang saleh berkata, "Sejak usia 3 tahun, aku tidak pernah meninggalkan qiyamullail."
Di masa kanak-kanaknya, Abu Yazid Al-Busthami belajar mengaji Quran pada seorang guru. Suatu saat ia sampai pada firman Allah: "Hai orang yang berselimut, bangunlah (untuk salat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), yaitu seperduanya atau kurangi sedikit dari seperdua itu." (QS Al-Muzzammil, 73:1-3) Sepulangnya dari belajar, ia bertanya kepada ayahnya, "Ayah, siapakah orang yang diperintahkan oleh Allah untuk bangun malam?" "Anakku, beliau adalah Nabi Muhammad SAW. Aku dan kamu tidak mampu meneladani perbuatan beliau," jawab ayahnya. Abu Yazid terdiam.
Pada pelajaran berikutnya, ia membaca ayat: Dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersamamu. (QS Al-Muzzammil, 73:20)
Sepulangnya dari belajar, ia bertanya lagi kepada ayahnya.
"Siapakah yang bangun malam bersama Nabi SAW?"
"Anakku, mereka adalah sahabat-sahabat beliau."
"Ayah, jika kita tidak seperti nabi dan tidak pula seperti sahabat-sahabat beliau, lalu kita ini seperti siapa?"
Mendengar ucapan ini, tergeraklah hati sang ayah untuk bangun malam. Hari itu juga, ia mulai salat malam. Si kecil Abu Yazid ikut bangun.
"Tidurlah anakku, engkau kan masih kecil," bujuk ayahnya.
"Ayah, ijinkanlah aku salat bersama ayah, kalau tidak, aku akan mengadukan ayah kepada Tuhanku," jawabnya.
"Tidak demi Allah, aku tidak ingin kamu mengadukan aku kepada Tuhanmu. Mulai malam ini salatlah bersamaku."
Abu Yazid selalu bermujahadah hingga ia mencapai kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Pernah diriwayatkan bahwa suatu hari ia berkata, "Barangsiapa mengetahui namaku dan nama ayahku akan masuk surga." Nama Abu Yazid dan ayahnya adalah Thoifur bin Isa.
Tingkat ketekunan
menentukan derajat ketinggian.
Siapa ingin kemuliaan
janganlah tidur malam.
Barang siapa bersungguh-sungguh, ia akan memperoleh yang diinginkan. Barangsiapa mengetuk pintu, ia akan masuk. Barang siapa menempuh perjalanan, ia akan sampai dan akan menganggap kecil apa yang telah dikorbankan.
Penuntut ilmu hendaknya bangun sebelum fajar, walaupun hanya setengah jam sebelumnya. Jika ia bangun setelah fajar, maka setan telah kencing di telinganya. Dan barang siapa telinganya dikencingi setan, ia akan memulai harinya dengan perasaan malas. Syeikh Ahmad bin Hajar berkata bahwa setan benar-benar telah mengencingi telinga orang itu, namun ia tidak wajib menyucikannya karena kejadian itu bersifat batiniah. (dari ebook Kisah-Kisah Islami)
MEMILIH KARTU TELEPON KEUPEUL
-jangan tergiur iklan, contoh xl bebas rp1/detik, itu mah boongan
- ada sinyalnya gak di rumah kita? Contoh bang Ik punya kartu three tapi sayang gak bisa dipake, soalnya gak ada sinyalnya di karawang.
-fasilitas, harga sms dan telp, dan harga isi ulang bisa jadi acuan kita memilih kartu
- sesuaikan dengan keluarga dan sahabat karib kita, karena biasanya dengan kartu yg sama bisa murah dalam berkomunikasi.
Bab 1. Sepuluh Murid Baru
PAGI itu, waktu aku masih kecil, aku duduk di bangku panjang di depan sebuah kelas.Sebatang pohon filicium tua yang riang meneduhiku. Ayahku duduk di sampingku,memeluk pundakku dengan kedua lengannya dan tersenyum mengangguk-angguk pada setiap orangtua dan anak-anaknya yang duduk berderet-deret di bangku panjang lain didepan kami. Hari itu adalah hari yang agak penting: hari pertama masuk SD.
Di ujung bangku-bangku panjang tadi ada sebuah pintu terbuka. Kosen pintu itu miring karena seluruh bangunan sekolah sudah doyong seolah akan roboh. Di mulut pintu berdiri dua orang guru seperti para penyambut tamu dalam perhelatan. Mereka adalah seorang bapak tua berwajah sabar, Bapak K.A. Harfan Efendy Noor, sang kepala sekolahdan seorang wanita muda berjilbab, Ibu N.A. Muslimah Hafsari atau Bu Mus. Seperti ayahku, mereka berdua juga tersenyum.
Namun, senyum Bu Mus adalah senyum getir yang dipaksakan karena tampak jelas beliau sedang cemas. Wajahnya tegang dan gerak-geriknya gelisah. Ia berulang kali menghitung jumlah anak-anak yang duduk di bangku panjang. Ia demikian khawatir sehingga tak peduli pada peluh yang mengalir masuk ke pelupuk matanya. Titik-titik keringat yang bertimbulan di seputar hidungnya menghapus bedak tepung beras yang dikenakannya, membuat wajahnya coreng moreng seperti pameran emban bagi permaisuri dalam Dul Muluk, sandiwara kuno kampung kami.
“Sembilan orang … baru sembilan orang Pamanda Guru, masih kurang satu…,”katanya gusar pada bapak kepala sekolah. Pak Harfan menatapnya kosong.
Aku juga merasa cemas. Aku cemas karena melihat Bu Mus yang resah dan karena beban perasaan ayahku menjalar ke sekujur tubuhku. Meskipun beliau begitu ramah pagi ini tapi lengan kasarnya yang melingkari leherku mengalirkan degup jantung yang cepat. Aku tahu beliau sedang gugup dan aku maklum bahwa tak mudah bagi seorang pria beruisa empat puluh tujuh tahun, seorang buruh tambang yang beranak banyak dan bergaji kecil, utnuk menyerahkan anak laki-lakinya ke sekolah. Lebih mudah menyerahkannya pada tauke pasar pagi untuk jadi tukang parut atau pada juragan pantai
untuk menjadi kuli kopra agar dapat membantu ekonomi keluarga. Menyekolahkan anak
berarti mengikatkan diri pada biaya selama belasan tahun dan hal itu bukan perkara gampang bagi keluarga kami.
“Kasihan ayahku ….”
Maka aku tak sampai hati memandang wajahnya.
“Barangkali sebaiknya aku pulang saja, melupakan keinginan sekolah, dan mengikuti jejak beberapa abang dan sepupu-sepupuku, menjadi kuli ….”
Tapi agaknya bukan hanya ayahku yang gentar. Setiap wajah orangtua di depanku mengesankan bahwa mereka tidak sedang duduk di bangku panjang itu, karena pikiran mereka, seperti pikiran ayahku, melayang-layang ke pasar pagi atau ke keramba di tepian laut membayangkan anak lelakinya lebih baik menjadi pesuruh di sana. Para orangtua ini sama sekali tak yakin bahwa pendidikan anaknya yang hanya mampu mereka biayai paling tinggi sampai SMP akan dapat mempercerah masa depan keluarga. Pagi ini mereka terpaksa berada di sekolah ini untuk menghindarkan diri dari celaan aparat desa karena tak menyekolahkan anak atau sebagai orang yang terjebak tuntutan zaman baru, tuntutan memerdekakan anak dari buta huruf.
Aku mengenal para orangtua dan anak-anaknya yang duduk di depanku. Kecuali seorang anak lelaki kecil kotor berambut keriting merah yang meronta-ronta dari pegangan ayahnya. Ayahnya itu tak beralas kaki dan bercelana kain belacu. Aku tak mengenal anak beranak itu.
Selebihnya adalah teman baikku. Trapani misalnya,
yang duduk di pangkuan ibunya, atau Kucai yang duduk di samping ayahnya, atau Syahdan yang tak diantar siapasiapa. Kami bertetangga dan kami adalah orang-orang Melayu belitong dari sebuah komunitas yang paling miskin di pulau itu.Adapun sekolah ini,SD Muhammadiyah, juga sekolah kampung yang paling miskin di Belitong. Ada tiga alasan mengapa para orangtua mendaftarkan anaknya di sini. Pertama, karena sekolah Muhammadiyah tidak menetapkan iuran dalam bentuk apa pun, para orangtua hanya menyumbang sukarela semampu mereka. Kedua, karena firasat, anak-anak mereka dianggap memiliki karakter yang mudah disesatkan iblis sehingga sejak usia muda harus mendapatkan pendadaran Islam yang tangguh. Ketiga, karena anaknya memang tak diterima di sekolah mana pun.
Bu Mus yang semakin khawatir memancang pan-dangannya ke jalan raya di seberang lapangan sekolah berharap kalau-kalau masih ada pendaftar baru. Kami prihatin melihat harapan hampa itu. Maka tidk seperti suasana di SD lain yang penuh kegembiraan ketika menerima murid angkatan baru, suasana hari pertama di SDMuhammadiyah penuh dengan kerisauan, dan yang paling risau adalah Bu Mus dan Pak Harfan.
Guru-guru yang sederhana ini berada dalam situasi genting karena Pengawas Sekolah dari Depdikbud Sumsel telah memperingatkan bahwa jika SD Muhammadiyah ha-nya mendapat murid baru kurang dari sepuluh orang maka sekolah paling tua diBelitong ini harus ditutup. Karena itu sekarang Bu Mus dan Pak Harfan cemas sebab sekolah mereka akan tamat riwayatnya, sedangkan para orangtua cemas karena biaya, dan kami, sembilan anak-anak kecil ini—yang terperangkap di tengah—cemas kalaukalau kami tak jadi sekolah.
Tahun lalu SD Muhammadiyah hanya mendapatkan sebelas siswa, dan tahun ini Pak Harfan pesimis dapat memenuhi target sepuluh. Maka diam-diam beliau telah mempersiapkan sebuah pidato pembubaran sekolah di depan para orangtua murid pada kesempatan pagi ini. Kenyataan bahwa beliau hanya memerlukan satu siswa lagi untuk memenuhi target itu menyebabkan pidato ini akan menjadi sesuatu yang menyakitkan hati.
“Kita tunggu sampai pukul sebelas,” kata Pak Harfan pada Bu Mus dan seluruh orangtua yang telah pasrah. Suasana hening. Para orangtua mungkin menganggap kekurangan satu murid sebagai pertanda bagi anak-anaknya bahwa mereka memang sebaiknya didaftarkan pada para juragan saja. Sedangkan aku dan agaknya juga anak-anak yang lain merasa amat pedih: pedih pada orangtua kami yang tak mampu, pedih menyaksikan detik-detik terakhir sebuah sekolah tua yang tutup justru pada hari pertama kami ingin sekolah, dan pedih pada niat kuat kami untuk belajar tapi tinggal selangkah lagi harus terhenti hanya karena kekurangan satu murid. Kami menunduk dalam-dalam.
Saat itu sudah pukkul sebelas kurang lima dan Bu Mus semakin gundah. Lima tahun pengabdiannya di sekolah melarat yang amat ia cintai dan tiga puluh dua tahun pengabdian tanpa pamrih pada Pak Harfan, pamannya, akan berakhir di pagi yang sendu ini.
“Baru sembilan orang Pamanda Guru …,” ucap Bu Mus bergetar sekali lagi. Ia sudah tak bisa berpikir jernih. Ia berulang kali mengucapkan hal yang sama yang telah diketahui semua orang. Suaranya berat selayaknya orang yang tertekan batinnya.
Akhirnya, waktu habis karena telah pukul sebelas lewat lima dan jumlah murid tak juga genap sepuluh. Semangat besarku untuk sekolah perlahan-lahan runtuh. Aku mele-paskan lengan ayahku dari pundakku. Sahara menangis terisak-isak mendekap ibunya karena ia benar-benar ingin sekolah di SD Muhammadiyah. Ia memakai sepatu,kaus kaki, jilbab, dan baju, serta telah punya buku-buku, botol.
minum, dan tas punggung yang semuanya baru.
Pak Harfan menghampiri orangtua murid dan menyalami mereka satu per satu. Sebuah pemandangan yang pilu. Para orangtua menepuk-nepuk bahunya untuk
membesarkan hatinya. Mata Bu Mus berkilauan karena air mata yang menggenang. Pak Harfan berdiri di depan para orangtua, wajahnya muram. Beliau bersiap-siap memberikan pidato terakhir. Wajahnya tampak putus asa. Namun ketika beliau akan mengucapkan kata pertama Assalamu’alaikum seluruh hadirin terperanjat karena Tripani berteriak sambil menunjuk ke pinggir lapangan rumput luas halaman sekolah itu.
“Harun!”
Kami serentak menoleh dan di kejauhan tampak seorang pria kurus tinggi berjalan terseok-seok. Pakaian dan sisiran rambutnya sangat rapi. Ia berkemeja lengan panjang putih yang dimasukkan ke dalam. Kaki dan langkahnya membentuk huruf x sehingga jika berjalan seluruh tubuhnya bergoyang-goyang hebat. Seorang wanita gemuk setengah baya yang berseri-seri susah payah memeganginya. Pria itu adalah Harun, pria jenaka sahabat kami semua, yang sudah berusia lima belas tahun dan agak terbelakang mentalnya. Ia sangat gembira dan berjalan cepat setengah berlari tak sabar menghampiri ka-mi. Ia tak menghiraukan ibunya yang tercepuk-cepuk kewalahan menggandengnya.
Mereka berdua hampir kehabisan napas ketika tiba di depan Pak Harfan.
“Bapak Guru …,” kata ibunya terengah-engah.
“Terimalah Harun, Pak, karena SLB hanya ada di Pulau Bangka, dan kami tak punya biaya untuk menyekolahkan-nya ke sana. Lagi pula lebih baik kutitipkan dia di sekolah ini daripada di rumah ia hanya mengejar-ngejar anak-anak ayamku ….”
Harun tersenyum lebar memamerkan gigi-giginya yang kuning panjang-panjang.Pak Harfan juga terseyum, beliau melirik Bu Mus sambil mengangkat bahunya.
“Genap sepuluh orang …,” katanya.
Harun telah menyelamatkan kami dan kami pun bersorak. Sahara berdiri tegak merapikan lipatan jilbabnya dan menyandang tasnya dengan gagah, ia tak mau duduk
lagi. Bu Mus tersipu. Air mata guru muda ini surut dan ia menyeka keringat di wajahnya yang belepotan karena bercampur dengan bedak tepung beras.
BAB 2. Antediluvium
IBU Muslimah yang beberapa menit lalu sembap, gelisah, dan coreng-moreng kini menjelma menjadi sekuntum Crinum giganteum. Sebab tiba-tiba ia mekar sumringah dan posturnya yang jangkung persis tangkai bunga itu. Kerudungnya juga berwarna bunga crinum demikian pula bau bajunya, persis crinum yang mirip bau vanili. Sekarang dengan ceria beliau mengatur tempat duduk kami.
Bu Mus mendekati setiap orangtua murid di bangku panjang tadi, berdialog sebentar dengan ramah, dan mengabsen kami. Semua telah masuk ke dalam kelas, telah mendapatkan teman sebangkunya masing-masing, kecuali aku dan anak laki-laki kecil kotor berambut keriting merah yang tak kukenal tadi. Ia tak bisa tenang. Anak ini berbau hangus seperti karet terbakar.
“Anak Pak Cik akan sebangku dengan Lintang,” kata Bu Mus pada ayahku.
Oh, itulah rupanya namanya, Lintang, sebuah nama yang aneh.Mendengar keputusan itu Lintang meronta-ronta ingin segera masuk kelas.Ayahnya berusaha keras menenangkannya, tapi ia memberontak, menepis peganganayahnya, melonjak, dan menghambur ke dalam kelas mencari bangku kosongnya sendiri.Di bangku itu ia seumpama balita yang dinaikkan ke atas tank, girang tak alang kepalang, tak mau turun lagi.
Ayahnya telah melepaskan belut yang licin itu, dan anak-nya baru saja meloncati nasib, merebut pendidikan.
Bu Mus menghampiri ayah Lintang. Pria itu berpo-tongan seperti pohon cemara angin yang mati karena disambar petir: hitam, meranggas, kurus, dan kaku. Beliau adalah seorang nelayan, namun pembukaan wajahnya yang mirip orang Bushman adalah raut wajah yang lembut, baik hati, dan menyimpan harap. Beliau pasti termasuk dalam sebagian besar warga negara Indonesia yang menganggap bahwa pendidikan bukan hak asasi.Tidak seperti kebanyakan nelayan, nada bicaranya pelan. Lalu beliau bercerita pada Bu Mus bahwa kemarin sore kawanan burung pelintang pulau mengunjungi pesisir. Burung-burung keramat itu hinggap sebentar di puncak pohon ketapang demi menebar pertanda bahwa laut akan diaduk badai. Cuaca cenderung semakin memburuk akhir-akhir ini maka hasil melaut tak pernah memadai. Apalagi ia hanya semacam petani penggarap,bukan karena ia tak punya laut, tapi karena ia tak punya perahu.Agaknya selama turun temurun keluarga laki-laki cemara angin itu tak mampu terangkat dari endemik kemiskinan komunitas Melayu yang menjadi nelayan. Tahun ini beliau meng-inginkan perubahan dan ia memutuskan anak laki-laki tertuanya, Lintang, tak akan menjadi seperti dirinya. Lintang akan duduk di samping pria kecil berambut ikal ya-itu aku, dan ia akan sekolah di sini lalu pulang pergi setiap hari naik sepeda. Jika panggilan nasibnya memang harus menjadi nelayan maka biarkan jalan kerikil batu merah empat puluh kilometer mematahkan semangatnya. Bau hangus yang kucium tadi ternyata adalah bau sandal cunghai, yakni sandal yang dibuat dari ban mobil, yang auskarena Lintang terlalu jauh mengayuh sepeda.Keluarga Lintang berasal dari Tanjong Kelumpang, desa nun jauh di pinggir laut. Menuju ke sana harus melewati empat kawasan pohon nipah, tempat berawa-rawa yang dianggap seram di kampung kami. Selain itu di sana juga tak jarang buaya sebesarpangkal pohon sagu melintasi jalan. Kampung pesisir itu secara geografis dapat dikatakan sebagai wilayah paling timur di Sumatra, daerah minus nun jauh masuk ke pedalaman Pulau Belitong. Bagi Lintang, kota kecamatan, tempat sekolah kami ini, adalah
metropolitan yang harus ditempuh dengan sepeda sejak subuh. Ah! Anak sekecil itu ….
Ketika aku menyusul Lintang ke dalam kelas ia menyalamiku dengan kuat seperti pegangan tangan calon mertua yang menerima pinangan. Energi yang berlebihan di tubuhnya serta-merta menjalar padaku laksana tersengat listrik. Ia berbicara tak hentihenti penuh minat dengan dialek Belitong yang lucu, tipikal orang Belitong pelosok. Bola matanya bergerak-gerak cepat dan me-nyala-nyala. Ia seperti pilea, bunga meriam itu,yang jika butiran air jatuh di atas daunnya, ia melontarkan tepung sari, semarak, spontan,mekar, dan penuh daya hidup. Di dekatnya, aku merasa seperti ditantang mengambil an-cang-ancang untuk sprint seratus meter. Sekencang apa engkau berlari? Begitulah makna tatapannya.
Aku sendiri masih bingung. Terlalu banyak perasaan untuk ditanggung seorang anak kecil dalam waktu demikian singkat. Cemas, senang, gugup, malu, teman baru, guru baru … semuanya bercampur aduk. Ditambah lagi satu perasaan ngilu karena sepasang sepatu baru yang dibelikan ibuku. Sepatu ini selalu kusembunyikan ke belakang. Aku selalu menekuk lututku karena warna sepatu itu hitam bergaris-garis putih maka ia tampak seperti sepatu sepak bola, jelek sekali. Bahannya pun dari plastik yang keras.Abang-abangku sakit perut menahan tawa melihat sepatu itu waktu kami sarapan pagi tadi. Tapi pandangan ayahku menyuruh mereka bungkam, membuat perut mereka kaku.
Kakiku sakit dan hatiku malu dibuat sepatu ini.
Sementara itu, kepala Lintang terus berputar-putar se-perti burung hantu. Baginya,penggaris kayu satu meter, vas bunga tanah liat hasil prakarya anak kelas enam di a-tas meja Bu Mus, papan tulis lusuh, dan kapur tumpul yang berserakan di atas lantai kelas yang sebagian telah menjadi tanah, adalah benda-benda yang menakjubkan. Kemudian kulihat lagi pria cemara angin itu. Melihat anaknya demikian bergairah ia tersenyum getir. Aku me-ngerti bahwa pira yang tak tahu tanggal dan bulan kelahirannya itu gamang membayangkan kehancuran hati anaknya jika sampai drop out saat kelas dua atau tiga SMP nanti karena alasan klasik: biaya atau tuntutan nafkah. Bagi beliau pendidikan adalah enigma, sebuah misteri. Dari empat garis generasi yang diingatnya, baru Lintang yang sekolah. Generasi kelima sebelumnya adalah masa antediluvium, suatu masa yang amat lampau ketika orang-orang Melayu masih berkelana sebagai nomad. Mereka berpakaian kulit kayu dan menyembah bulan.
UMUMNYA Bu Mus mengelompokkan tempat duduk kami berdasarkan kemiripan. Aku dan Lintang sebangku karena kami sama-sama berambut ikal. Trapani duduk dengan Mahar karena mereka berdua paling tampan. Penampilan mereka seperti para penaltun irama se-menanjung idola orang Melayu pedalaman. Trapani tak tertarik dengan kelas, ia mencuri-curi pandang ke jendela, melirik kepala ibunya yang muncul sekali-sekali di antara kepala orangtua lainnya.
Tapi Borek (bacanya Bore’, “e”-nya itu seperti membaca elang, bukan seperti menyebut “e” pada kata edan, dan “k”-nya itu bukan “k” penuh, Anda tentu paham
maksud saya) dan Kucai didudukkan berdua bukan karena mereka mirip tapi karena sama-sama susah diatur. Baru beberapa saat di kelas Borek sudah mencoreng muka Ku-cai dengan penghapus papan tulis. Tingkah ini diikuti Sahara yang sengaja menumpahkan air minum A Kiong sehingga anak Hokian itu menangis sejadi-jadinya seperti orang ketakutan dipeluk setan. N.A. Sahara Aulia Fadillah binti K.A. Muslim Ramdhani Fadillah, gadis kecil berke-rudung itu, memang keras kepala luar biasa.Kejadian itu menandai perseteruan mereka yang akan berlangsung akut bertahun-tahun.Tangisan A Kiong nyaris merusak acara perkenalan yang menyenangkan pagi itu. Seba-liknya, bagiku pagi itu adalah pagi yang tak terlupakan sampai puluhan tahun mendatang karena pagi itu aku melihat Lintang dengan canggung menggenggam sebuah
pensil besar yang belum diserut seperti memegang sebilah belati. Ayahnya pasti telah keliru membeli pensil karena pensil itu memiliki warna yang berbeda di kedua ujungnya.
Salah satu ujungnya berwarna merah dan ujung lainnya biru. Bukankah pensil semacam itu dipakai para tukang jahit untuk menggaris kain? Atau para tukang sol sepatu untuk membuat garis pola pada permukaan kulit? Sama sekali bukan untuk menulis.Buku yang dibeli juga keliru. Buku bersampul biru tua itu bergaris tiga. Bukankah buku semacam itu baru akan kami pakai nanti saat kelas dua untuk pelajaran menulis rangkai indah? Hal yang tak akan pernah kulupakan adalah bahwa pagi tiu aku menyaksikan seorang anak pesisir melarat—teman sebangku—untuk pertama kalinya memegang pensil dan buku, dan kemudian pada tahun-tahun berikutnya, setiap apa pun
yang ditulisnya merupakan buah pikiran yang gilang gemilang, karena nanti ia—seorang anak miskin pesisir—akan menerangi nebula yang melingkupi sekolah miskin ini sebabia akan berkembang menjadi manusia paling genius yang pernah kujumpai seumur hidupku.
<<
Maung Soléh
Kacaritakeun….
Aya hiji jajaka muslim nu teu Juma'ahan. Manéhna kalahka ka leuweung rék moro hayam leuweung. Keur keketeyepan dina jukut nu jarangkung jeung bala, ujug-ujug papaliwat jeung sakadang Maung nu keur saré. Bakatku reuwas, bedilna murag kana jungkrang. Manéhna labuh, ngagedebru pas pisan diluhureun batu… Kraakkkk! Dua sukuna potong…
Ieu mah lain béja goréng. Tapi goréng béjana nyaéta sakadang Maung nu tadi keur saré hudang tuluy nyampeurkeun jiga nu rék ngahakan, mangkaningan manéhna geus teu bisa walakaya.
“Ya Allah,” éta jajaka ngadu'a,
”Hapunten sagala dosa perdosaan kuring pédah teu Juma'ahan dina poé Juma'ah nu mulya ieu…
Hapunten ya Allah, jantenkeun ieu Maung nu ngudag kuring, janten Maung nu soléh… Tulung ya Rab…! Amiiin….”
Sakedét nétra aya sora ngaguruh! Sakadang Maung ngarandeg hareupeun pisan éta jajaka.... Dua sukuna nu hareup dikaluhurkeun bari nyarita,
”Allaahumma baarik lanaa, fiimaa razaqtanaa, wa qinaa adzaabannaar. Amin!”
http://www.urangsunda.net/index.php?option=com_content&task=view&id=215&Itemid=71
4 Tipe Manusia Hadapi Tekanan Hidup
January 16th, 2008
“Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh” (John Gray)
Pembaca, hidup memang tidak lepas dari berbagai tekanan. Lebih-lebih,hidup di alam modern ini yang menyuguhkan beragam risiko. Sampai seorang sosiolog Ulrich Beck menamai jaman kontemporer ini dengan masyarakat risiko (risk society). Alam modern menyuguhkan perubahan cepat dan tak jarang mengagetkan.
Nah, tekanan itu sesungguhnya membentuk watak, karakter, dan sekaligus menentukan bagaimana orang bereaksi di kemudian hari. Pembaca, pada kesempatan ini, saya akan memaparkan empat tipe orang dalam menghadapi berbagai tekanan tersebut. Mari kita bahas satu demi satu tipe manusia dalam menghadapi tekanan hidup ini.
Tipe pertama, tipe kayu rapuh. Sedikit tekanan saja membuat manusia ini patah arang. Orang macam ini kesehariannya kelihatan bagus. Tapi, rapuh sekali di dalam hatinya. Orang ini gampang sekali mengeluh pada
saat kesulitan terjadi.
Sedikit kesulitan menjumpainya, orang ini langsung mengeluh, merasa tak berdaya, menangis, minta dikasihani atau minta bantuan. Orang ini perlu berlatih berpikiran positif dan berani menghadapi kenyataan hidup.
http://www.motivasi.web.id/
PEMANASAN GLOBAL
Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan Bumi.
Temperatur rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan temperatur rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia"[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.
Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan temperatur permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.[1] Adanya beberapa hasil yang berbeda diakibatkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda pula dari emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang juga akibat model-model dengan sensitivitas iklim yang berbeda pula. Walaupun sebagian besar penelitian memfokuskan diri pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun jika tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil.[1] Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.
Meningkatnya temperatur global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya muka air laut, meningkatnya intensitas kejadian cuaca yang ekstrim,[2] serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser dan punahnya berbagai jenis hewan.
Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuan adalah mengenai jumlah pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekwensi-konsekwensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.
Bismillahhirrahmannirrahim
1.Bismillahhirrahmannirrahim:pada tiap-tap hendak melakukan sesuatu.
2.Alhamdulliah:pada tiap-tiap habis melakukan sesuatu.
3.Astagfirrullah:jika tersilap mengatakan sesuatu yang buruk.
4.Isyaallah:jika ingin melakukan sesuatu pada masa akan datang.
5.Lahaulawalaquataillahbillah:bila tidak dapat melakukan sesuatu yang agak berat atau melihat sesuatu yang buruk.
6.Innalillah:jika menghadapi musibah atau melihat kematian.
7.Laailaahaillallah:bacalah sepanjang siang dan malam sebanyak-banyaknya.
THE WATER HORSE: LEGEND OF THE DEEP', Legenda Monster
Pemain: Emily Watson, Alex Etel, Ben Chaplin, David Morissey
THE WATER HORSE: LEGEND OF THE DEEP adalah film bergenre fantasi-family yang mengambil tema persahabatan antara bocah kesepian dengan seekor binatang, seperti halnya FREE WILLY. Film adaptasi novel anak-anak karya Dick-King Smith ini disutradarai oleh Jay Russell yang menceritakan sebuah legenda tentang kuda air yang juga dikenal dengan Loch Ness, seekor mamalia yang menurut mitos pernah hidup di zaman purba.
Dengan penuturan yang cerdas dan kisah menyentuh hati, film berdurasi 111 menit ini dapat dinikmati baik oleh orang dewasa maupun anak-anak. Apalagi ditunjang teknik CGI (computer-generated imagery) oleh tim yang sama dengan serial THE CHRONICLES OF NARNIA, Crusoe (sebutan untuk monster Loch Ness) terlihat menawan, cute saat masih kecil dan mengesankan setelah menjadi besar.
Special effects-nya benar-benar menyatu dengan cerita yang ada. Makanya tak heran, film yang dirilis 25 DEsember 2007 di Amerika Serikat ini langsung mendapat 2 nominasi Visual Effects Society Awards yaitu Outstanding Animated Character in a Live Action Motion Picture dan Outstanding Compositing in a Motion Picture.
Mengambil berlatar belakang perang dunia kedua, film ini berkisah tentang Angus MacMorrow (Alex Etel), seorang anak lelaki dari Skotlandia. Angus tinggal bersama ibunya (Emily Watson), kakak perempuannya (Priyanka Xi), dan seorang pria yang bekerja pada keluarga Mcmorrow bernama Lewis Mowbray (Ben Chaplin) yang juga mantan tentara, serta Kapten Hamilton (David Morissey) pemimpin tentara Skotlandia yang bermarkas di rumah MacMarrow.
Suatu hari, Angus yang kesepian dan belum dapat menerima kematian ayahnya yang meninggal dalam perang, menemukan sebuah telur berukuran besar di tepi pantai. Ketika membawa pulang ke rumah, telur tersebut menetas dan lahirlah mamalia purba Water Horse atau Loch Ness yang diberi nama Crusoe oleh Angus.
Masalah mulai muncul ketika Crusoe tumbuh pesat. Bathtub sudah tak cukup lagi, Crusoe pun dipindahkan ke danau dekat rumah Angus. Keadaan bertambah buruk saat Kapten Hamilton melakukan latihan militer ke danau Loch Ness dengan menembakkan meriam-meriam. Crusoe yang tadinya jinak berubah menjadi liar dan galak. Ia menyerang siapa saja termasuk tuannya, Angus.
Kapten Hamilton sendiri akhirnya menganggap Crusoe membahayakan. Angus pun berusaha melepaskan Crusoe di lautan lepas. Berhasilkah Angus membawa Crusoe sampai ke perbatasan Laut yang dijaga oleh sepasukan tentara?
Happy Cat and the Chicken
Happy Cat stepped in mud and got messy. That is why Happy Cat didn't go to sleep.Happy Cat went by a pumpkin Pumpkin near a scarecrow Scarecrow with Pumpkin then Taylor went up with her chicken in her hands and the chicken jumped out of her hands and pecked Happy Cat. Happy Cat runs as far far away from the chicken. Then he saw a boy named Shawn. Shawn said hello Happy Cat what are you doing out here in the dark? Happy Cat said he needed to go potty. Shawn kept Happy Cat for a pet and taught him to do tricks. The End!
Selamat Ultah ya…bagi yang berulang tahun bulan februarii, diantaranya :
- Hamzah
- Deden
Oia, bagi yang namanya gak ada, met ultah juga ya,...terus bagi yang lain mohon segera daftarkan hari ultahnya lewat sms ke mang Aie. OK!
Kuis berhadiah
Oleh : Abu Nahla Alfatihah
Alkisah ada seorang bapak yang sedang memberikan wasiat pada anak – anaknya, adapun wasiatnya sebagai berikut :
“Anakku semua, bapak hendak berwasiat maka dengarkan wasiat ini baik – baik, jika bapak nanti sudah tidak ada, hendaklah kalian beribadah pada Allah SWT saja, karena zaman sekarang tuhan itu banyak, tapi hendaknya kamu sekalian harus beribadah hanya pada Allah SWT saja, jangan pada tuhan yang lain!.”
Ada ulama yang mendengar wasiat di atas dan Sang Ulama itu merekomendasikan bahwa orang tua yang berwasiat itu telah melakukan syirik dan wajib melakukan syahadat ulang.
Apa sebenarnya kesalahan dari orang tua itu?
Jawaban bisa lewat sms, jawaban harus disertai alasan, dalil yang berhubungan. Jawaban bisa dikirim lewat sms ke 08129589002. Bagi jawaban yang terbaik akan diberikan hadiah berupa voucher. Jawaban paling lambat diterima pada 2 edisi yang akan datang.
Dari percikan iman, (kiriman Wa Neneng)
Wishing
Kau berharap dunia yang lebih baik?
Kuberi tahu caranya,
atur langkahmu agar tetap di jalur benar dan lurus,
buang perasaan egois.
Jadikan pikiranmu bersih dan tinggi
Maka kau bisa ciptakan surga kecil di tempat
Yang kau singgahi
Kau berharap dunia lebih menyenangkan?
Ingat-ingatlah setiap hari
Tebarkan benih kebaikan
Saat lewati melangkah
Dan pasti satu diantaranya
Ada kebaikan untuk seseorang.
Bagai tangan yang menanam benih pohon ek
Tempat bala tentara berlindung dari sengatan matahari
By Ella WC terjemahan rahmat...
Keluarga Wa / Mang Awan
Keluarga Wa/Mang Awan dibangun melalui perkawinan Ahmad Ridwan (Awan) dan Siti Rohmania Kustini (Tini), pada tanggal 9 Juli 1985 di Garut. Kemudian pada 22 Maret 1986 lahir anak pertama bernama Mohammad Ismet Natsir atau biasa dipanggil Kaka Imet dan 3 tahun kemudian, tepatnya 18 Oktober 1989 lahir anak kedua yang diberi judul eh nama Sita Sastriartini Putri biasa dipanggil Puput. Wa/Mang Awan sendiri lahir pada tanggal 4 Agustus 1960 sementara Wa/Bi Tini lahir di akhir bulan, 31 Oktober 1962.
Wa/Mang Awan dan Wa/Bi Tini bekerja sebagai PNS. Tapi kelihatannya enggak nyambung banget! Wa/Mang Awan yang jebolan Fakultas Ilmu Komunikasi kok Cuma menjadi seorang Kepala Seksi Pemerintahan di kecamatan, yang kerjanya mengurus KTP, PBB, dan lain-lain. Sementara Wa/Bi Tini yang keluaran Sekolah Pertanian, sekarang menjadi petugas administrasi di salah satu SMP Negeri di Tarogong Garut. Tetapi itulah hidup. Tidak selalu apa yang kita inginkan mesti menjadi kenyataan.
Oya, catat alamat kami: Perum Bumi Abdi Negara I No. 124 RT 02/RW XI Sindanggalih, Karangpawitan- Garut. Telp. 0262-443647. Trus, sebagai data lain simak nih: Hobi Keluarga:
Segitu aza dulu yach, soalnya kolomnya terbatas. Terakhir, siapa saja yang sedang berurusan dan berminat dengan tulis-menulis, nulis apa saja, surat cinta, makalah, skripsi, cerpen, artikel, dan lain-lain, bisa berdiskusi dan berlatih dengan Wa/Mang Awan. Pintu terbuka lebar….***
Sup Jagung Manis
Bumbu-bumbu :
Bawang putih 3 siung ---Bawang merah 4 siung
Lengkuas 5 cm ---- Tomat 1 buah ----susu – 3 sendok makan
Bahan : Jagung manis 3 buah, wortel 3 buah, buncis 10 buah dan jamur 1 ons.
Semua bahan dipotong kecil-kecil, jamur disuwir, jagung di ambil bijinya dengan cara dipapas pakai pisau. Bumbu diiris dan dicincang, kemudian digoreng menggunakan mentega, setelah wangi masukkan sayuran dan oseng sebentar, lalu ditambah air 2 gelas. Setelah mendidih, tambahkan susu, garam, dan gula putih. Kira-kira sayuran sudah lunak, rasain dulu, jika sudah sesuai selera sup jagung boleh disantap.Tanyain Bang Ik, gimana enaknya sup jagung buatan Mang Aie. Cobain atuh!
![]()
Sekali lagi, Redaksi masih membutuhkan sumbangsih saran, artikel dan bahan untuk diterbitkan. Oleh karena itu, redaksi minta agar koresponden yang tercantum bisa berfungsi dengan baik, dan memberikan berita yang segar dari Garut.